Baret Biru
Jalan tanah merah yang berliku-liku menembus angin berkabut.
Dari mausoleum yang menjulang tinggi hingga jalan-jalan yang dipenuhi bunga-bunga indah.
Jejak kaki seseorang tidak dapat menghapus begitu banyak tahun.
Biji kopi di dalam kantong itu menyimpan semua rahasia tersembunyinya.
Dari kesunyian hutan yang dalam hingga gemerlap lampu kota.
Kisah lama tetap sama, hanya dengan tambahan sentuhan warna hijau.
Jalan dari mausoleum mengarah ke kedai kopi.
Hari ini, biji kopi kering berserakan di jalanan.
Menghormati orang-orang yang bangga dan tinggi dari negeri tiga kamar.
Melestarikan semangat dataran tinggi di setiap tahapan waktu.
Mendaki gunung, suara gong memanggil matahari.
Musim hujan dan musim panas yang lama masih mengikuti jejak langkah orang-orang.
Ini bukan hanya tentang berdagang, ini adalah sebuah perjalanan.
Menghadirkan media dataran tinggi lebih dekat ke hati kita.
Sekalipun keadaan berubah besok, sekalipun jalanan jauh dari ladang, ladang-ladang itu tetaplah tandus.
Jalan itu masih menyimpan kenangan di mana akar buah gac tumbuh di masa lalu.
Jalan setapak dari mausoleum itu masih bergema dengan suara-suara hutan.
Kopi kering masa kini adalah ritme baru yang tak pernah berakhir.
Di antara masa lalu dan masa kini, antara menara kuno dan jalan-jalan kota.
Sebuah jalan menghubungkan kembali ke nyala api merah murni cinta.
Biji-bijian di dataran tinggi ini padat dan tahan lama.
Jalan dari mausoleum itu akan membentang sangat panjang.
Biji kopi kering melanjutkan kisah magis tersebut.
Dari pegunungan dan hutan terpencil hingga ke hati masyarakat.
Hingga hari ini, aroma kopi masih tercium, sama seperti cinta yang masih tetap kuat.
Hingga hari ini, aroma kopi masih tercium, sama seperti cinta yang masih tetap kuat.