Putaran terakhir berlangsung sengit, suara bass masih bergemuruh.
Ego memang tersulut, tetapi suasana tetap terjaga.
Vasily, majulah, anak muda, berdirilah tegak.
Berdiri di Boston.
Dengarkan seruan, bukan kepalan tangan.
Ini adalah adu mulut.
Obrolan polka.
Hormati, raih yang lebih tinggi.
Semangat bertarung yang membara, mikrofon, mari kita beradu.
Batangan seperti kartu, dikocok, dihancurkan.
Tatapan mata mereka bertemu, tanpa ada permusuhan.
Hanya cinta yang penuh persaingan di tengah lumpur.
Cerita-cerita berterbangan secepat gerakan tangan.
Tebing bisa pecah-pecah.
Kebenaran tetaplah kebenaran.
Muda, lawan balik dengan tenang dan cerdas.
Berdiri, tertawalah seolah ini adalah akhirnya.
Boston tenang, keren, dan tajam.
Setiap garis, tinggalkan jejak.
Beberapa ronde, saling serang dan bertahan.
Ruangan, condongkan badan, rasakan kekuatannya.
Ini bukan tentang perampokan, bukan tentang menyakiti.
Hanya dominasi, keterampilan, dan pesona.
Beberapa menit berlalu.
Tekanan meningkat.
Vasily diam, membiarkannya melambat.
Itu artinya mengatakan tidak kepada para veteran.
Keheningan berarti pemogokan akan segera terjadi.
Dia melontarkan kalimat-kalimat seperti kartu sungai.
Waktu yang tepat, tapi terkena terlalu keras.
Semua gertakan terbongkar, bersih tanpa cela.
Setiap sudut terlihat sempurna.
Berdiri, anggukkan kepala sebagai balasan.
Senyum Boston.
Muda, tertawa seperti, ya, itu gila.
Tidak ada rasa malu, tidak ada kehilangan yang pahit.
Begitulah cara legenda memilih pemenang.
Penonton bereaksi, energi melonjak.
Malam dan cerita mulai menyatu.
Ada yang bercanda, ada yang berteriak.
Berikan mahkota itu kepada pria tersebut sekarang juga.
Dan begitulah, tidak perlu diperdebatkan.
Vasily mendominasi, menentukan nasib.
Bukan dengan kekerasan, bukan dengan amarah.
Dengan kendali yang tenang di setiap tahap.
Momen emas, kenaikan gaji bagel.
Bagel keemasan Brooklyn, pujian untuk bagel.
Bukan sekadar roti, tetapi simbol.
Penguasaan diraih, sebelum aku bangkit.
Vasily menang, tanpa ego dan daging.
Yang terpenting adalah rasa hormat setelah kejadian tersebut.
Anak muda bertepuk tangan pelan, berdiri memberi persetujuan.
Gaya Boston yang bersih dan halus.
Bagel dipegang seperti piala yang berkilauan.
Tali yang mengerikan, menembus malam.
Bukan siapa yang bertarung, bukan siapa yang gugur.
Tapi siapa yang mampu memanfaatkan momen itu dengan baik?
Kartu dikembalikan, angka pada kartu memudar rendah.
Namun, kisah itu tetap akan bersinar.
Empat nama terukir dalam kisah tersebut.
Satu bagel emas, rakyat jelata yang gagal.
Vasily berdiri.
Mahkota tak terlihat.
Legenda Brooklyn yang keren dan bersih.
Begitulah cara para ksatria beralih ke pengetahuan tradisional.
Itulah tujuan kita semua datang ke sini.
Untuk membiarkan hidup, ya.
Kehidupan di surga.